Ketika satu keluarga pergi berbelanja ke supermarket, berapa banyak plastik yang akan mereka bawa pulang? Mungkinkah hanya satu atau dua kantong plastik? Mungkin saja, kalau sebatas kantong pembungkus seluruh belanjaan. Bagaimana dengan isi dari kantong-kantong pembungkus itu? Pasti ada banyak sekali plastik di dalamnya, karena tidak ada barang yang saat ini tidak terbungkus plastik. Bahkan kita bisa menemukan banyak sekali plastik di dalam satu produk kemasan. Ingatkah anda semua dengan makanan-makanan instan, seperti mi dan bubur instan? Berapa banyak plastik yang ada dalam satu kemasan makanan itu?
Mengacu pada kebiasaan sehari-hari kita sebagai manusia, berbelanja tentu saja bukalah sesuatu yang bisa dihindari. Mulai dari berbelanja makanan, baik yang mentah, matang maupun instan, membeli kebutuhan pribadi sehari-hari, membeli kebutuhan rumah tangga, dan berbagai kebutuhan lainnya. Bagaimanapun juga, kegiatan berbelanja itu tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan plastik, karena nyaris mustahil memang berbelanja tanpa menggunakan plastik. Berbelanja tanpa menggunakan kantong plastik (beberapa orang menyebutnya kantongkresek)untuk membawa belanjaan anda pulang memang masih memungkinkan, tetapi apakah mungkin untuk berhasil berbelanja tanpa menggunakan dan menghasilkan plastik sama sekali?
Dikutip dari Kompas.com dalam artikelnya yang berjudul Indonesia Penyumbang Sampah Plastik Terbesar di Dunia, Mentri Kelautan Susi Pudjiastuti menyatakan bahwa Indonesia merupakan penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia. Berdasarkan data dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik yang dihasilkan Indonesia adalah sebanyak 64 juta ton per tahun, dan sebanyak 3,2 juta ton dari sampah tersebut berakhir di laut. Masih berdasarkan sumber yang sama, sekitar 10 miliar lembar atau setara 85 ribu ton kantong plastik dibuang ke laut. Jumlah ini tentu saja memprihatinkan, karena plastik-plastik yang akhirnya terbuang ke laut itu kemudian terbelah lagi menjadi mikro plastik yang kemudian dikonsumsi oleh ikan serta biota laut. Kalau sudah dikonsumsi ikan seperti ini, tentu saja juga membahayakan manusia. Sebab, plastik-plastik yang sudah dikonsumsi ikan ini kemudian terserap masuk ke daging ikan tersebut dan ikan itulah yang kemudian kita konsumsi. Singkatnya, dengan menggunakan semakin banyak plastik tanpa mempertimbangkan siklus daur ulangnya membuat kita semakin banyak mengkonsumsi plastik.
Melihat hal tersebut, pemerintah kemudian mengambil langkah untuk mencoba meringankan permasalahan ini. Jalan yang diambil ialah membuat kantong plastik tak gratis lagi di berbagai pusat perbelanjaan, sehingga orang semakin berminat menggunakan tas belanja agar tak perlu lagi membayar untuk kantong plastik yang kali ini fungsinya sudah digantikan oleh tas belanja. Selain membuat kantong plastik tak lagi gratis seperti dulu, Pemerintah juga menghimbau mereka yang bergerak di bidang ritel untuk menyediakan kantong plastik yang ramah lingkungan dan bisa dikompos, seperti kantong yang terbuat dari tapioka misalnya. Kebijakan ini tercantum pada SE KLHK No. S.1230/PSLB3- PS /2016 tentang Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar, dikutip dari Policy Brief vol. 10 no. 6 tahun 2016 yang diterbitkan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Meski sudah dihimbau dan ketentuan semacam itu telah dikeluarkan, alternatif “memaksa” masyarakat untuk membayar kantong plastik serta mengganti kantong plastik biasa dengan kantong plastik yang bisa dikompos nampaknya belum bisa dikatakan efektif. Memang, kebijakan ini tentu saja telah mengurangi sebagian dari kantong plastik lembaran yang kita hasilkan. Sayangnya, pemakaian plastik terbesar dalam kehidupan sehari-hari tentu saja bukanlah kantong plastik yang ditetapkan berbayar 200 rupiah, bukan? Sampah plastik terbanyak yang kita hasilkan dalam keseharian kita adalah dari pembungkus makanan atau minuman yang dikemas dengan kemasan sekali pakai, dan berbagai barang sekali pakai yang kita gunakan setiap hari.
Bayangkan saja, apabila plastik ditetapkan berbayar dan berhasil dikurangi pemakaiannya, apakah dampaknya akan terasa apabila kita terus-menerus membeli minuman kekinian yang diwadahi gelas sekali pakai, lengkap dengan sedotannya? Belum lagi berbagai minuman yang dijual di pasaran, yang menggunakan plastik atau karton berlapis sebagai kemasannya. Dan sayuran yang dibungkus plastik, atau buah yang sudah terlebih dahulu dikupas dan kemudian dikemas menggunakan plastik. Tentunya apabila yang semacam ini tak ikut dikurangi, penetapan aturan kantong plastik berbayar pun tak akan terasa dampaknya.
Membahas masalah timbunan sampah plastik ini, dikutip dari jurnal yang ditulis oleh Jenna Jambeck pada tahun 2015, masalah dari timbunan sampah plastik ini adalah karena buruknya sistem daur ulang sampah plastik yang ada di negara tersebut. Sebut saja di Indonesia, banyaknya sampah plastik yang akhirnya terdampar di laut bukan tak mungkin adalah dampak dari tidak ada sistem daur ulang sampah yang memadai, atau misalkan ada pun kurang tersosialisasikan dengan baik ke masyarakat sehingga sampah-sampah plastik ini terus dibuang sekenanya. Bahkan, masyarakat kita masih enggan dalam memilah sampah sesuai dengan jenisnya. Entah apa alasannya, bisa jadi memang karena malas, atau kurangnya edukasi ke masyarakat perihal memilah sampah ini.
Kurangnya langkah konkrit dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah plastik ini akhirnya menggugah berbagai komunitas untuk mengajak masyarakat untuk hidup dengan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Sebut sajaZero WasteIndonesia (@zerowaste.id_official di Instagram), adalah salah satu komunitas yang mengajak masyarakat untuk hidup dengan lebih ramah lingkungan mulai dari hal-hal kecil, seperti membawa tas belanja dan wadah bekal sendiri, berbelanja tanpa plastik di pasar tradisional, sekaligus menyediakan berbagai tutorial sederhana untuk mengkompos berbagai sampah organik yang kita hasilkan sehari-hari agar kita mampu menyisakan sesedikit mungkin sampah dalam keseharian kita.